JANGAN BERINVESTASI KARENA ATASAN. (Kasus Investasi Bodong Pandawa Group).

Berita di detik.com (baca disini), sungguh bikin miris. Investasi bodong kembali memakan korban, kali ini 21 orang pegawai Bank Pemerintah di Bekasi terjebak rayuan atasannya untuk berinvestasi ke Pandawa Group. Janji hasil bagi 10% per bulan, telah membutakan pikiran mereka. Total Rp. 2 Milyar sudah disetor dan sekarang macet.  Pembagian keuntungan bulanan berhenti dan uang pokok investasipun tidak jelas nasibnya karena Pandawa Group sudah dihentikan  operasinya.

Yang menarik dari kasus Pandawa Group ini, korbannya adalah para pegawai bank. Hal ini menjadi bukti masih lemahnya literasi keuangan di masyarakat kita. Investasi bodong ternyata bisa memakan korban siapa saja, termasuk para bankers yang notabenenya sehari-hari terpapar dengan berbagai informasi keuangan. Tak perduli dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja korban,  seribu tipu muslihat dikemas oleh para pelaku investasi bodong untuk mengelabuhi para korbannya.

Dalam kasus Pandawa Group ini, salah seorang pejabat Bank plat merah tersebut  disinyalir telah menjadi Leader dalam keanggotan investasi di Pandawa Group dan berhasil menghimpun total dana sejumlah Rp. 2 Milyar dari para anak buahnya yang menjadi down lines-nya. Ini baru satu kasus yang terungkap. Berdasarkan pengalaman, satu kasus money game seperti ini ibarat puncak gunung es, baru permukaannya saja. Jika ditelusuri lebih mendalam, dana yang terhimpun dari masyarakat lainnya bisa sampai 10 bahkan 100 kali lebih besar.  Hal ini menjadi tantangan bagi OJK dan POLRI untuk mengungkapnya.

Belajar dari kasus Pandawa ini, berikut adalah 4 (empat) kiat bagi karyawan di suatu perusahaan dalam berinvestasi:

  1. Berinvestasilah secara mandiri.

Berinvestasi sebaiknya dilakukan karena keputusan sendiri, bukan karena ikut-ikutan. Jikapun ada orang lain yang menyarankan atau mengajak, sebaiknya pelajari terlebih dahulu. Jangan langsung menerimanya.

Bagaimana jika Atasan yang mengajak berinvestasi? Apalagi jika atasan Anda sangat lihai memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi Memisahkan urusan personal dan professional adalah kuncinya. Tidak mudah tapi pasti bisa dilakukan.

Yang utama adalah Anda harus berani bersikap. Atasan Anda adalah pimpinan dalam masalah pekerjaan tapi TIDAK untuk kehidupan pribadi dan dalam masalah investasi.

Kedepankan sikap professionalisme. Jangan takut tidak naik jabatan atau bakal masuk kotak jika Anda tidak bergabung atau menjadi member dalam kegiatan investasinya. Capailah prestasi kerja Anda sebaik mungkin, sehingga Anda tidak perlu “menyetor dana” untuk menyenangkan atasan.

  1. Kuasai emosi Anda.

Return on investment (ROI) sebesar 10% sebulan atau 120% setahun adalah sangat fantastis dan pasti mengguncang  emosi  dan kewarasan Anda, termasuk para bankers korban investasi bodong Pandawa Group. Mereka sehari-hari disodori dengan informasi suku bunga tabungan dan deposito dibawah 10% per tahun (sebelum dikurangi pajak dan biaya administrasi).

10% sebulan adalah sesuatu yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan,  it is to good to be true. Apalagi jika Anda hanya menyetorkan dana dan tidak terlibat dalam kegiatan operasi perusahaan sama sekali.  Jika Anda mendapatkan tawaran investasi dengan ROI di atas deposito, sebaiknya waspada. Apalagi dengan embel-embel tidak ada risiko. Pelajaran dasar investasi adalah High Return High Risk. Low Risk Low Return. Jika ada High Return Low Risk, alarm diri Anda seharusnya berbunyi.

Jebakannya adalah dengan menyodorkan bukti transfer beberapa bulan terakhir. Hal ini bisa bikin mata Anda berkunang-kunang karena sudah terhipnotis dengan bujuk rayu mereka. Saran saya ingatlah petuah Warren Buffet, investor top dunia. “Jika Anda tidak bisa mengendalikan emosi, Anda tidak akan mampu mengontrol Uang Anda”.

Jangan langsung ambil keputusan. Tarik nafas dulu, endapkan semalam dan ajak ngobrol pasangan Anda. Cari second opinion dari orang yang Anda anggap kredibel (yang pasti bukan dari orang yang satu kelompok dengan yang menawarkan investasi tersebut).

  1. Cek legal formal dan operasi perusahaannya.

Jangan berinvestasi dengan Model Katanya. Katanya begini dan katanya begitu. Ingat lidah tak bertulang. Dalam kasus Pandawa, ada beberapa orang yang menyetor dana tanpa memiliki kontrak atau penjanjian. Namun demikian, meskipun Anda memegang penjanjian, pastikan bahwa perjanjian tersebut dengan perusahaan bukan dengan personal atau atasan Anda.

Jika Anda mau tanda tangan dengan perusahaan, jangan ragu untuk meminta salinan semua dokumen formalnya bahkan laporan keuangannya. Pelajari semuanya dengan teliti. Loh kok jadi ribet? Pastinya akan ribet karena ini prosedur standar jika Anda ingin aman berinvestasi. Anda adalah pemilik dana, mestinya posisi tawar Anda lebih tinggi sehingga bisa meminta persyaratan yang lebih menguntungkan Anda. Ingat Bank juga akan melakukan hal yang sama jika meminjamkan uangnya ke Anda.

Kunjungi lokasi kantor, pabrik atau lokasi usahanya untuk memastikan bahwa proses produksi terjadi. Kalo investasi penggemukan sapi, harus jelas ada perternakan dan sapinya. Kalo investasi agribisnis, juga harus jelas ada lahan pertanian dan tanamannya. Pastikan juga itu bukan sapi sewaan dan tanaman milik orang lain. Lakukan ngobrol ringan dengan  para pegawai dan tetangganya, untuk ngecek validitas usahanya.

  1. Jaminan dan Exit Strategi.

Tawaran investasi selalu berbicara yang indah-indah. Tapi Anda harus mau berbicara yang jelek-jelek. Ini bukan masalah optimis atau tidak optimis tapi bagaimana berpikir dan bersikap realistis. Bagaimana jika skema investasinya gagal? Bagaimana prosedur penarikan dananya?

Jika investasi di level personal, mintalah jaminan, bisa BPKB kendaraan, Sertipikat Tanah atau Rumah. Jika investasi tidak kembali tinggal Anda jual saja jaminannya. Kalo dengan perusahaan, pastikan bahwa investasi Anda dijamin LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) jika tidak, alarm Anda mestinya menyala.  Apa bisa Atasan Anda atau siapapun yang merekomendasikan menyerahkan jaminan?

Selain jaminan, yang perlu diperhatikan juga adalah Exit Strateginya. Bagaimana cara menarik dana investasinya, sebagian atau semuanya. Apakah bisa dalam waktu cepat, apakah bisa semuanya sekaligus, apakah prosedurnya jelas dan tidak berbelit-belit dan apakah dikenakan penalti jika ditarik sebelum masa investasi selesai.

Jika jawaban dari empat pertanyaan tadi “ya”, Anda relatif aman. Tapi bila ada salah satu jawaban yang “tidak”, alarm Anda sudah seharusnya menyala.

Sebagai penutup, jangan terjebak dengan kharisma atasan, tokoh agama atau siapapun. Masih ingat Dimas Kanjeng Taat Pribadi? Di luar sana banyak serigala berbulu domba, vampire berjubah gamis atau mafia berjas dan berdasi. Jadi bekali diri Anda dengan pengetahuan berinvestasi dulu sebelum bertindak memilih instrument investasi supaya tidak terjebak yang bodong.

 

Ade Ahmad Rozi

CEO & Managing Partner

Prospero Management

6 Februari 2017